oleh Emiliana Arti Susanti
Jalan depan sekolah
cukup ramai. Bukan jalan raya ataupun jalan protokol pusat kota Yogyakarta,
namun satu-satunya jalan menuju sekolah itu dari dua arah. Jalan Melati Wetan
Yogyakarta, yang menyuguhkan pemandangan pagi bersemangat. Hiruk pikuk alat transportasi mulai dari
sepeda yang dikayuh anak-anak di sekitar sekolah, kendaraan bermotor,
transportasi publik on line dan mobil
pribadi menjadi pemandangan pagi itu. Bis kota tidak melintasi depan sekolah
karena jalan itu bukan jalan raya atau jalan protokol kota.
Itu hanyalah satu pagi
diantara pagi-pagi yang lain di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Pintu masuk
kendaraan dan keluar yang berbeda diatur sedemikian rupa sehingga meskipun
ramai, arus lalu lintas di jalan umum depan sekolah tidak macet. Meskipun
ramai, arus antar peserta didik oleh keluarganya tidak semrawut.
Bapak dan Ibu guru yang
bertugas di depan pintu masuk telah bersiap dengan 5 S yaitu salam, senyum,
sapa, sopan, santun. Sudah menjadi budaya menyambut anak-anak titipan Tuhan
dalam rutinitas pagi. Itulah salah satu wujud menghargai kehadiran peserta
didik dan memberikan sapaan penyemangat
di pagi hari. Menyapa anak-anak dengan nama mereka, menyerukan ucapan selamat
pagi dan selamat belajar. Pagi itu salah satu anak baru saja turun dari
kendaraan roda empat orangtuanya. Sesaat orangtuanya berlalu, sang anak baru
sadar bahwa sisa-sisa sarapan masih menghiasi sekitar mulutnya. Dengan berbisik
pada salah satu guru yang menyambutnya, ia mangatakan “ Bu guru, maaf aku baru
saja selesai makan bubur. Mulutku belum bersih. Aku masih makan bubur lho.” Cerita
jujur seorang anak kelas II. Ibu guru itu menjawabnya “Baik Nak, sekarang kamu
bersihkan wajahmu di wastafel sambil lihat di cermin ya”. Bukan menyalahkan dan
merendahkan, Bu Guru membuat pagi si anak cerah ceria.
Rasanya masih cukup
waktu untuk menikmati pagi di halaman sekolah. Bermain bersama teman-teman yang
datang pagi dan merasakan sejuknya udara di tengah kota memang sayang
dilewatkan nampaknya. Lobi sekolah menjadi saksi keramahan antar guru dan
peserta didik dan setiap insan yang melintasi ruangan penyambut bagi yang
datang dan haus akan ilmu. Ya ilmu pengetahuan, ya ilmu untuk perkembangan diri
anak bangsa. Di lobi sekolah terlihat jelas visi dan misi sekolah yang menjadi
arahan dan jalan mewujudkan tujuan bersama. Visi sekolah yang berumuskan
“Cerdas, Terampil, Cinta Kebenaran dan Berwawasan Global memiliki indikator yang
salah satunya adalah “Unggul dalam pendidikan karakter”.
Sekolah itu tak begitu
megah dengan pilar-pilar gagah dan mewah. Cukuplah bangunan kuat, kokoh dan
bersahaja untuk menjadi tempat bermain dan belajar bagi setidaknya 400 hati
yang ingin mencari bekal pengalaman hidup, ilmu pengetahuan, hard skill dan soft skill bagi masa depan. Begitu masuk ke halaman tengah sekolah,
banyak pohon dan tanaman yang lengkap bertempelkan nama berbahasa Indonesia dan
Latinnya. Lingkungan yang bersahabat dan menebarkan cukup oksigen bagi semua
warga sekolah yang datang setiap hari. Pagi itu cerah, siap di lukis oleh
pribadi-pribadi peserta didik.
“Nana
tilut nana tilut nanana nana nana tilut nana nana tilut nanana nanana …..”
instrumen lagu anak tanda masuk telah terdengar tepat pukul 06.50. Ada semangat
mengantarkan kaki-kaki kecil pembelajar menuju kelas-kelas yang terdiri dari
dua lantai. Dengan satu komando di masing-masing kelas, para peserta didik siap
berbaris dengan tertib. Masuk satu persatu menuju meja dan kursi belajar di
dalam kelas. Pagi itu meja tertata berbentuk U, tidak seperti seminggu ke
belakang yang berbentuk kelompok-kelompok, atau berdua-dua di waktu yang lain
lagi. Mengatur tempat duduk menjadi satu bentuk pengelolaan kelas yang
menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Jam pelajaran pertama
adalah jam Perwalian. Jam perwalian merupakan waktu khusus di awal kegiatan
belajar mengajar setiap harinya. Jam perwalian di seluruh kelas itu serentak
diisi dengan doa pagi, renungan ayat Kitab Suci, memberikan salam kepada guru,
memberikan penghormatan untuk bendera merah putih di kelas, pengucapan yel-yel
kelas, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib nasional dan pemberian
motivasi belajar oleh guru. Penguatan karakter yang di harapkan akan tertanam
dalam diri setiap pribadi di sekolah itu dan nilai – nilai kebaikan dikuatkan
pada saat awal hari.
Pada jam-jam
pembelajaran berikutnya, tidak hanya ilmu pengetahuan yang semata diajarkan
oleh guru kepada peserta didik. Nilai-nilai moral yang ditarik dari setiap
pembelajaran menjadi kunci penguatan karakter sesuai dengan harapan sekolah.
Siang itu, di suatu
kelas di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Di mana seorang anak yang tadi pagi
menyapa guru setelah makan bubur sebagai sarapannya, sedang berlangsung sebuah
kuis. Kuis paling favorit di kelas adalah mencongak. Dengan segala perasaan
nampak diantara wajah-wajah peserta didik, justru memberikan rasa tersendiri
pada guru. Terkadang terkesan lucu melihat anak-anak nampak harap-harap cemas
menantikan pertanyaan demi pertanyaan yang akan dilontarkan oleh guru. Biasanya
anak-anak menyukai kuis mencongak ini karena begitu banyak kemampuan yang bisa
diasah. Kecepatan, ketepatan, kepercayaan diri, mengendalikan emosi, fokus dan
yang paling utama adalah jujur. Semakin hari, dari hasil pengamatan dan catatan
sehari-hari guru, tidak lagi ditemukan peserta didik yang mencontek pada saat
mengerjakan penilaian. Mengakui kesalahan sudah menjadi pembiasaan yang baik
serta keberanian untuk meminta maaf jika melakukannya. Setiap usaha akan
dihargai oleh guru dengan pujian ataupun reward.
Reward dapat berbentuk gambar senyum
yang nantinya akan dibubuhkan di kertasnya, bintang ataupun priviledge lain seperti membantu guru
selama satu minggu penuh. Bisa dibayangkan, binar mata anak-anak menerimanya.
Semua mendapatkan. Setiap usaha patut dihargai, sekecil apapun bentuknya.
Sekali-kali, hasil bukan lagi menjadi tujuan akhir anak-anak karena motivasi
dapat tumbuh dengan dorongan dan stumulus yang diberikan oleh guru dan
lingkungan bagi perkembangan belajar mereka.
Siang itu hanyalah satu
siang diantara siang-siang yang lain di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Ketika bel istirahat berbunyi dan anak-anak sudah
siap menikmati bekal makan sehatnya masing-masing. Anak-anak secara otomatis
terbiasa serta merta duduk di selasar depan kelas dan membuat lingkaran kecil
untuk makan bersama. Betapa pemandangan itu menyejukkan setiap hati yang
melihatnya.
Tidak hanya dalam jam
perwalian pendidikan karakter didengungkan. Tidak hanya tertuang dalam visi
misi sekolah. Tidak hanya tertoreh dalam brosur sekolah yang dikedepankan
menjadi keunggulan sekolah. Namun dalam pembelajaran, pembiasaan dan kegiatan
di sekolah dari pagi hingga siang. Karena pada dasarnya, kejujuran menjadi
bekal utama yang hendaknya tertanam dalam tiap pribadi. Menjadi nilai yang tak
boleh putus diperjuangkan. Kejujuran pun dituangkan melalui kegiatan tiap-tiap
hari di SD Joannes Bosco setelah proses belajar ilmu pengetahuan di lalui.
Setelah berproses dalam belajar di sekolah, anak-anak SD Joannes Bosco
melakukan kontemplasi sebagai wujud kejujuran pada diri sendiri dan dengan
Tuhan sang pemberi anugerah. Kontemplasi menjadi waktu khusus untuk hening dan
mencoba mencari kehendak Tuhan setelah proses belajar yang dialami. Apa yang
dikehendaki Tuhan atas semua melalui proses belajar dan peristiwa yang dialami.
Menjadi waktu membangun niat dan mohon petunjuk Tuhan agar kebaikan yang sudah
dilakukan dapat berguna bagi sesama dan menjadi pembiasaan. Sedangkan peristiwa
dan tindakan atau sikap yang kurang baik dapat diperbaiki di hari-hari
berikutnya.
Dalam buku Pengembangan Pendidikan
Budaya dan Karakter Bangsa yang
disusun Kemendiknas melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum
merumuskan 18 nilai karakter yakni religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja
keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau
nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cita damai,
gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. Nilai karakter
ini pun dituangkan dalam modul yang berisi
berbagai bentuk aktivitas dan lembar kerja bagi peserta didik agar usaha peningkatan
pendidikan karakter di SD Joannes Bosco Yogyakarta semakin mendalam.
Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak
etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan
sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29). Bagaimana menguatkan
sifat-sifat kejujuran dan moral kebaikan bagi peserta didik sekolah dasar? Di
antara metode
pembelajaranyang sesuai adalah metode
keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Suyadi mengutip pernyataan Lickona
bahwa pendidikan karakter mencakup tiga unsure pokok yaitu mengetahui kebaikan
(knowing the good), mencintai
kebaikan (desiring the good), dan
melakukan kebaikan (doing the good).
Dengan demikian, pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya sadar dan
terencana dalam mengetahui kebenaran, mencintainya dan melakukannya dalam
kehidupan sehari-hari (Suyadi, 2013:6).
Keteladanan berarti contoh
tindakan yang sungguh nyata dilakukan agar dapat menjadi model dan
menginspirasi sehingga dapat dibagikan bagi sesama yang dijumpai. Membiasakan
berbuat kebaikan dan kejujuran menjadi efektif bagi usia dan karakteristik
peserta didik sekolah dasar dengan melihat model dan menirunya. Dimulai dari
Bapak dan Ibu guru di sekolah. Namun begitu, tidak hanya bapak ibu guru yang
hendaknya memberikan keteladanan, karena pada hakikatnya, kebaikan adalah virus
yang menular. Jika satu orang saja sudah memberi keteladanan kebaikan,
menularkannya kepada orang lain, maka berbuat kebaikan akan menjadi pembiasaan
yang bukan dipaksakan. Pembiasaan yang alami akan melekat dalam diri tiap
pribadi untuk kemudian dibagikan pada yang lainnya.
Di SD Joannes Bosco
Yogyakarta, anak-anak dan semua yang mengenal sekolah ini tentu tidak asing
dengan motto sekolah “Veritas” yang dalam Bahasa Indonesia berarti Kebenaran.
Karakter yang diperkuat di sekolah itu salah satunya adalah Kebenaran yang
dapat diwujudkan dalam sikap kejujuran. Mengatakan kejujuran dan bertindak
jujur semakin nampak dalam diri peserta didik. Hati yang jujur melahirkan
tindakan yang jujur. Menuliskan pengalaman secara jujur juga dilakukan pada
akhir jam belajar. Setiap hari anak-anak mengisi diary dengan pengalaman, makna
yang didapat dari proses belajar hari itu, perasaan yang dialami dan kebaikan –
kebaikan yang dibagikan untuk sesama di sekolah. Buku diary dan pembiasaan
menulis diary merupakan bentuk menuangkan kejujuran dan mengkomunikasikan
seluruh proses belajar di sekolah dengan orangtua di rumah. Jika tidak jujur
maka bukan anak Tuhan yang Veritas, kata mereka. Karena sejatinya, lingkungan
sekolah dan lingkungan rumah hendaknya saling mendukung pembiasaan bagi kuatnya
pendidikan karakter bagi peserta didik.
Mengutamakan pendidikan
karakter sudah menjadi salah satu indikator visi dari SD Joannes Bosco Yogyakarta.
Baik itu karakter lulusan maupun seluruh anggota keluarga besar sekolah mulai
dari Kepala Sekolah, guru, karyawan dan pemerhati sekolah hingga peserta didik
yang dipercayakan oleh orangtua kepada pihak sekolah. Keteladanan dan
pembiasaan akan menguatkan pendidikan karakter bagi semua warga sekolah yang
pada akhirnya akan membawa kebaikan untuk dibagikan bagi sesama menuju
keselamatan.