Senin, 02 Oktober 2017

Anak-Anak "Veritas" Kebenaran




oleh Emiliana Arti Susanti



Jalan depan sekolah cukup ramai. Bukan jalan raya ataupun jalan protokol pusat kota Yogyakarta, namun satu-satunya jalan menuju sekolah itu dari dua arah. Jalan Melati Wetan Yogyakarta, yang menyuguhkan pemandangan pagi bersemangat.  Hiruk pikuk alat transportasi mulai dari sepeda yang dikayuh anak-anak di sekitar sekolah, kendaraan bermotor, transportasi publik on line dan mobil pribadi menjadi pemandangan pagi itu. Bis kota tidak melintasi depan sekolah karena jalan itu bukan jalan raya atau jalan protokol kota.  
Itu hanyalah satu pagi diantara pagi-pagi yang lain di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Pintu masuk kendaraan dan keluar yang berbeda diatur sedemikian rupa sehingga meskipun ramai, arus lalu lintas di jalan umum depan sekolah tidak macet. Meskipun ramai, arus antar peserta didik oleh keluarganya tidak semrawut.
Bapak dan Ibu guru yang bertugas di depan pintu masuk telah bersiap dengan 5 S yaitu salam, senyum, sapa, sopan, santun. Sudah menjadi budaya menyambut anak-anak titipan Tuhan dalam rutinitas pagi. Itulah salah satu wujud menghargai kehadiran peserta didik dan  memberikan sapaan penyemangat di pagi hari. Menyapa anak-anak dengan nama mereka, menyerukan ucapan selamat pagi dan selamat belajar. Pagi itu salah satu anak baru saja turun dari kendaraan roda empat orangtuanya. Sesaat orangtuanya berlalu, sang anak baru sadar bahwa sisa-sisa sarapan masih menghiasi sekitar mulutnya. Dengan berbisik pada salah satu guru yang menyambutnya, ia mangatakan “ Bu guru, maaf aku baru saja selesai makan bubur. Mulutku belum bersih. Aku masih makan bubur lho.” Cerita jujur seorang anak kelas II. Ibu guru itu menjawabnya “Baik Nak, sekarang kamu bersihkan wajahmu di wastafel sambil lihat di cermin ya”. Bukan menyalahkan dan merendahkan, Bu Guru membuat pagi si anak cerah ceria.
Rasanya masih cukup waktu untuk menikmati pagi di halaman sekolah. Bermain bersama teman-teman yang datang pagi dan merasakan sejuknya udara di tengah kota memang sayang dilewatkan nampaknya. Lobi sekolah menjadi saksi keramahan antar guru dan peserta didik dan setiap insan yang melintasi ruangan penyambut bagi yang datang dan haus akan ilmu. Ya ilmu pengetahuan, ya ilmu untuk perkembangan diri anak bangsa. Di lobi sekolah terlihat jelas visi dan misi sekolah yang menjadi arahan dan jalan mewujudkan tujuan bersama. Visi sekolah yang berumuskan “Cerdas, Terampil, Cinta Kebenaran dan Berwawasan Global memiliki indikator yang salah satunya adalah “Unggul dalam pendidikan karakter”.
Sekolah itu tak begitu megah dengan pilar-pilar gagah dan mewah. Cukuplah bangunan kuat, kokoh dan bersahaja untuk menjadi tempat bermain dan belajar bagi setidaknya 400 hati yang ingin mencari bekal pengalaman hidup, ilmu pengetahuan, hard skill dan soft skill bagi masa depan. Begitu masuk ke halaman tengah sekolah, banyak pohon dan tanaman yang lengkap bertempelkan nama berbahasa Indonesia dan Latinnya. Lingkungan yang bersahabat dan menebarkan cukup oksigen bagi semua warga sekolah yang datang setiap hari. Pagi itu cerah, siap di lukis oleh pribadi-pribadi peserta didik.
“Nana tilut nana tilut nanana nana nana tilut nana nana tilut nanana nanana …..” instrumen lagu anak tanda masuk telah terdengar tepat pukul 06.50. Ada semangat mengantarkan kaki-kaki kecil pembelajar menuju kelas-kelas yang terdiri dari dua lantai. Dengan satu komando di masing-masing kelas, para peserta didik siap berbaris dengan tertib. Masuk satu persatu menuju meja dan kursi belajar di dalam kelas. Pagi itu meja tertata berbentuk U, tidak seperti seminggu ke belakang yang berbentuk kelompok-kelompok, atau berdua-dua di waktu yang lain lagi. Mengatur tempat duduk menjadi satu bentuk pengelolaan kelas yang menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Jam pelajaran pertama adalah jam Perwalian. Jam perwalian merupakan waktu khusus di awal kegiatan belajar mengajar setiap harinya. Jam perwalian di seluruh kelas itu serentak diisi dengan doa pagi, renungan ayat Kitab Suci, memberikan salam kepada guru, memberikan penghormatan untuk bendera merah putih di kelas, pengucapan yel-yel kelas, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib nasional dan pemberian motivasi belajar oleh guru. Penguatan karakter yang di harapkan akan tertanam dalam diri setiap pribadi di sekolah itu dan nilai – nilai kebaikan dikuatkan pada saat awal hari.
Pada jam-jam pembelajaran berikutnya, tidak hanya ilmu pengetahuan yang semata diajarkan oleh guru kepada peserta didik. Nilai-nilai moral yang ditarik dari setiap pembelajaran menjadi kunci penguatan karakter sesuai dengan harapan sekolah.
Siang itu, di suatu kelas di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Di mana seorang anak yang tadi pagi menyapa guru setelah makan bubur sebagai sarapannya, sedang berlangsung sebuah kuis. Kuis paling favorit di kelas adalah mencongak. Dengan segala perasaan nampak diantara wajah-wajah peserta didik, justru memberikan rasa tersendiri pada guru. Terkadang terkesan lucu melihat anak-anak nampak harap-harap cemas menantikan pertanyaan demi pertanyaan yang akan dilontarkan oleh guru. Biasanya anak-anak menyukai kuis mencongak ini karena begitu banyak kemampuan yang bisa diasah. Kecepatan, ketepatan, kepercayaan diri, mengendalikan emosi, fokus dan yang paling utama adalah jujur. Semakin hari, dari hasil pengamatan dan catatan sehari-hari guru, tidak lagi ditemukan peserta didik yang mencontek pada saat mengerjakan penilaian. Mengakui kesalahan sudah menjadi pembiasaan yang baik serta keberanian untuk meminta maaf jika melakukannya. Setiap usaha akan dihargai oleh guru dengan pujian ataupun reward. Reward dapat berbentuk gambar senyum yang nantinya akan dibubuhkan di kertasnya, bintang ataupun priviledge lain seperti membantu guru selama satu minggu penuh. Bisa dibayangkan, binar mata anak-anak menerimanya. Semua mendapatkan. Setiap usaha patut dihargai, sekecil apapun bentuknya. Sekali-kali, hasil bukan lagi menjadi tujuan akhir anak-anak karena motivasi dapat tumbuh dengan dorongan dan stumulus yang diberikan oleh guru dan lingkungan bagi perkembangan belajar mereka.
Siang itu hanyalah satu siang diantara siang-siang yang lain di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Ketika  bel istirahat berbunyi dan anak-anak sudah siap menikmati bekal makan sehatnya masing-masing. Anak-anak secara otomatis terbiasa serta merta duduk di selasar depan kelas dan membuat lingkaran kecil untuk makan bersama. Betapa pemandangan itu menyejukkan setiap hati yang melihatnya.
Tidak hanya dalam jam perwalian pendidikan karakter didengungkan. Tidak hanya tertuang dalam visi misi sekolah. Tidak hanya tertoreh dalam brosur sekolah yang dikedepankan menjadi keunggulan sekolah. Namun dalam pembelajaran, pembiasaan dan kegiatan di sekolah dari pagi hingga siang. Karena pada dasarnya, kejujuran menjadi bekal utama yang hendaknya tertanam dalam tiap pribadi. Menjadi nilai yang tak boleh putus diperjuangkan. Kejujuran pun dituangkan melalui kegiatan tiap-tiap hari di SD Joannes Bosco setelah proses belajar ilmu pengetahuan di lalui. Setelah berproses dalam belajar di sekolah, anak-anak SD Joannes Bosco melakukan kontemplasi sebagai wujud kejujuran pada diri sendiri dan dengan Tuhan sang pemberi anugerah. Kontemplasi menjadi waktu khusus untuk hening dan mencoba mencari kehendak Tuhan setelah proses belajar yang dialami. Apa yang dikehendaki Tuhan atas semua melalui proses belajar dan peristiwa yang dialami. Menjadi waktu membangun niat dan mohon petunjuk Tuhan agar kebaikan yang sudah dilakukan dapat berguna bagi sesama dan menjadi pembiasaan. Sedangkan peristiwa dan tindakan atau sikap yang kurang baik dapat diperbaiki di hari-hari berikutnya.
Dalam buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa  yang disusun Kemendiknas melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum merumuskan 18 nilai karakter yakni religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cita damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. Nilai karakter ini pun dituangkan dalam modul yang  berisi berbagai bentuk aktivitas dan lembar kerja bagi peserta didik agar usaha peningkatan pendidikan karakter di SD Joannes Bosco Yogyakarta  semakin mendalam.
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29). Bagaimana menguatkan sifat-sifat kejujuran dan moral kebaikan bagi peserta didik sekolah dasar? Di antara metode pembelajaranyang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Suyadi mengutip pernyataan Lickona bahwa pendidikan karakter mencakup tiga unsure pokok yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan demikian, pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana dalam mengetahui kebenaran, mencintainya dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari (Suyadi, 2013:6).
Keteladanan berarti contoh tindakan yang sungguh nyata dilakukan agar dapat menjadi model dan menginspirasi sehingga dapat dibagikan bagi sesama yang dijumpai. Membiasakan berbuat kebaikan dan kejujuran menjadi efektif bagi usia dan karakteristik peserta didik sekolah dasar dengan melihat model dan menirunya. Dimulai dari Bapak dan Ibu guru di sekolah. Namun begitu, tidak hanya bapak ibu guru yang hendaknya memberikan keteladanan, karena pada hakikatnya, kebaikan adalah virus yang menular. Jika satu orang saja sudah memberi keteladanan kebaikan, menularkannya kepada orang lain, maka berbuat kebaikan akan menjadi pembiasaan yang bukan dipaksakan. Pembiasaan yang alami akan melekat dalam diri tiap pribadi untuk kemudian dibagikan pada yang lainnya.
Di SD Joannes Bosco Yogyakarta, anak-anak dan semua yang mengenal sekolah ini tentu tidak asing dengan motto sekolah “Veritas” yang dalam Bahasa Indonesia berarti Kebenaran. Karakter yang diperkuat di sekolah itu salah satunya adalah Kebenaran yang dapat diwujudkan dalam sikap kejujuran. Mengatakan kejujuran dan bertindak jujur semakin nampak dalam diri peserta didik. Hati yang jujur melahirkan tindakan yang jujur. Menuliskan pengalaman secara jujur juga dilakukan pada akhir jam belajar. Setiap hari anak-anak mengisi diary dengan pengalaman, makna yang didapat dari proses belajar hari itu, perasaan yang dialami dan kebaikan – kebaikan yang dibagikan untuk sesama di sekolah. Buku diary dan pembiasaan menulis diary merupakan bentuk menuangkan kejujuran dan mengkomunikasikan seluruh proses belajar di sekolah dengan orangtua di rumah. Jika tidak jujur maka bukan anak Tuhan yang Veritas, kata mereka. Karena sejatinya, lingkungan sekolah dan lingkungan rumah hendaknya saling mendukung pembiasaan bagi kuatnya pendidikan karakter bagi peserta didik.
Mengutamakan pendidikan karakter sudah menjadi salah satu indikator visi dari SD Joannes Bosco Yogyakarta. Baik itu karakter lulusan maupun seluruh anggota keluarga besar sekolah mulai dari Kepala Sekolah, guru, karyawan dan pemerhati sekolah hingga peserta didik yang dipercayakan oleh orangtua kepada pihak sekolah. Keteladanan dan pembiasaan akan menguatkan pendidikan karakter bagi semua warga sekolah yang pada akhirnya akan membawa kebaikan untuk dibagikan bagi sesama menuju keselamatan.

Minggu, 01 Oktober 2017

dari M sampai R

22 September yang lalu
sebetulnya harap-harap cemas juga aku lewati
sampai H-1 pun suamiku sesungguhnya juga belum final dalam keyakinannya
jadwal vaksin MR untuk posyandu tiba juga waktunya

kujaga baik-baik aktivitasnya supaya tidak terlalu capek
kujaga makanannya
kujaga waktu tidurnya,
hingga pagi itu ... papa nya yang mengantar ke posyandu
dan sudah di vaksin
masa-masa pasca effect terlewati
hari ini hari ke-9
tidak terjadi reaksi dari tubuhnya
seperti dulu sebelum-sebelumnya dia rajin menerima vaksin mulai 1 bulan hingga 2 tahun
Vivi memang kuat
no worries

Hi, my blog ... Rasanya sayang untuk menyimpan precious moments di hardisk saja ... sejuta cerita dalam utusan karya di benua seberang ... ...