Kamis, 21 Desember 2017

CARA SAYA MENJADI IBU SIGAP SIAGA DI SEGALA SUASANA




Menjadi ibu menciptakan rasa dan suasana. Hari demi hari meyakinkan hati bahwa setiap usaha dan perjuangan akan menunjukkan jalan terbaiknya masing-masing. Saya, seorang ibu dengan satu anak perempuan berusia 3 tahun 9 bulan saat ini. Perjuangan mengalahkan kelemahan fisik serasa kaki tak memijak bumi sudah saya rasakan sejak awal mengandung hingga melahirkan. Bahkan sejak dalam kandungan, saya berupaya berpikiran positif dan bertekad dengan segala cara untuk keselamatan puteri kecil saya. 
Belajar menjadi Ibu tak kenal waktu. Belajar menyalurkan cinta dan perhatian tak kenal lelah. Menumbuhkan asa tak kenal masa. Cita-cita hanya satu, membuatnya sehat dan bahagia. 
Dalam keseharian, saya adalah ibu pekerja. Saya menjadi pendidik di suatu Sekolah Dasar. Mendidik anak-anak merupakan passion tersendiri bagi saya. Jauh sebelum saya menjadi seorang ibu bagi anak saya, saya merasakan menjadi ibu bagi anak-anak saya di sekolah.
Di tempat kerja, saya harus selalu bersemangat mendampingi anak-anak di segala suasana. Begitu sampai rumah, tak akan kenal lelah bercengkerama dengan puteri tercinta. Setiap hari saya membawa anak saya serta berangkat bekerja untuk belajar di kelompok bermain dan daycare dalam satu kompleks di tempat saya bekerja. Sampai waktu saya pulang, saya mengajaknya bersama. Jarak tempuh yang cukup jauh dan mengendarai sepeda motor membutuhkan ketahanan fisik bagi kami khususnya anak saya. Terkadang cuaca dan keadaan jalanan yang kurang bersahabat meruntuhkan pertahanan.




Selain itu, kegiatan sehari-hari dan kesukaannya bermain di halaman rumah seringkali menguras energinya secara berlebihan. Saat merasa lelah, ketahanan fisik berkurang, disitulah celah tercipta gejala penyakit mudah menyerang. Ketika anak saya sakit, saya harus siap dan sigap jiwa raga untuk menjaganya. Anak-anak memang masih rentan terserang gejala penyakit. Salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dialami anak-anak adalah demam. Demam dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain; batuk pilek,sakit gigi, efek samping dari vaksin ataupun infeksi karena virus yang menyerang kekebalan tubuh. Demam itu sendiri merupakan gejala sakit atau reaksi pertahanan diri untuk membentuk kekebalan tubuh. Jika anak saya mengalami demam, maka saya mempunyai cara untuk menanganinya;

1.      Mengendalikan diri untuk tidak panik
Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar orangtua akan merasakan kekhawatiran dan kepanikan mengetahui buah hati sakit. Begitu pula saya. Saya sering ingin menggantikan posisinya untuk mengalami sakit. Saya sering terburu-buru untuk mengambil tindakan meski saat dan kondisi tidak tepat. Namun, saya selalu berusaha tetap berpikiran jernih agar suasana tetap tenang dan anak saya tetap merasa aman meski dalam sakitnya.

2.      Mendampingi buah hati
Dalam keadaan sakit, tentu kita turut merasakan ketidaknyamanan yang dialami buah hati. Saya selalu mengusahakan waktu semaksimal mungkin dalam mendampinginya agar buah hati merasa tenang di dekat orangtuanya. Menjadi pendidik memang tidak bisa meninggalkan pekerjaan sewaktu-waktu, namun begitu selesai dengan tugas saya maka waktu yang ada akan sangat berguna untuk menjaga buah hati di kala sakit.

3.      Memantau perkembangan  buah hati
Tindakan awal saat mengetahui anak saya demam adalah mengukur suhu tubuhnya. Saya berpedoman, jika thermometer sudah menunjukkan lebih dari 37,5oC maka saya harus melakukan tindakan menurunkan panasnya.
·         Pertama-tama saya akan mengompresnya dengan air hangat. Dalam keadaan tidur berbaring, saya juga akan memeluknya menyentuhkan kulit tangan saya ke kulit tubuhnya. Ikatan kasih sayang ini yang dapat menguatkan hatinya menghadapi sakit.
·         Jika kompres tidak dapat menurunkan panasnya dalam satu sampai dua jam berikutnya dan demamnya semakin tinggi, maka saya memberikan obat penurun panas. Saya selalu menyediakan obat-obatan pertolongan pertama gangguan kesehatan ringan bagi anak saya. Salah satunya adalah obat penurun demam yaitu Tempra Syrup.  
            Mengapa Tempra Syrup?
Tempra syrup memiliki rasa buah yang pas di lidah anak saya. Setiap 5  ml Tempra Syrup mengandung 160 mg paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika yang efektif menurunkan suhu tubuh pada anak langsung dari pusatnya dan mengurangi rasa sakit. . Penurun panas ini dibuat dan diproduksi oleh PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. Obat penurun panas anak sampai dewasa yang aman di lambung, tidak perlu kocok, larut 00% dan memiliki aturan dosis tepat (tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis) relatif aman untuk anak saya. Sejauh ini saya masih mempercayakan pertolongan pertama ketika anak demam pada Tempra Syrup.
Berkat Tempra Syrup, demam anak saya cepat turun dan memberikan kelegaan tersendiri di hati saya sebagai ibu. Sebagai ibu saya sangat selektif dalam menangani anak yang sedang sakit. Dan pilihan saya tetap pada Tempra Syrup untuk penanganannya ketika demam melanda.  



4.      Bersinergi dengan suami atau orang terdekat dalam mengambil tindakan.

Belajar menjadi orangtua yang baik di segala suasana juga tentang bagaimana saya dapat berkomunikasi dengan baik dengan suami atau orang terdekat di mana saya bisa berbagi pendapat untuk tindakan penanganan tepat saat anak saya sakit. Segala pertimbangan dikomunikasikan dengan suami atau orang terdekat agar saya tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Keputusan antara lain bila anak saya sakit berlanjut maka penanganan untuk dibawa ke rumah sakit harus dibicarakan bersama dan dilakukan bersama sesegera mungkin. Ada ketenangan tersendiri saat saya dan suami dapat segera membawa anak ke dokter atau rumah sakit yang memadai. Dengan langkah seperti ini maka kedekatan emosional dan kebersamaan akan lebih bermakna dalam menghadapi kesulitan.






 Kita pasti tidak pernah ingin buah hati mengalami sakit. Namun ketika banyak faktor membuat raganya harus beristirahat sejenak maka kita tidak perlu panik dan tetap berpikiran jernih agar penanganan dapat optimal. Sebagai seorang Ibu, baik pekerja maupun bukan, harus tetap mengusahakan yang terbaik bagi kesehatan buah hati dan kesembuhannya di kala sakit. Menerapkan cara penanganan yang tepat saat keadaan tubuhnya sedang lemah meyakinkan saya untuk menunjukkan betapa saya mencintai buah hati. Kelak, ia akan membawa cerita tersendiri bahwa selalu ada cinta di hati saya untuknya.

disclaimer : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

Senin, 02 Oktober 2017

Anak-Anak "Veritas" Kebenaran




oleh Emiliana Arti Susanti



Jalan depan sekolah cukup ramai. Bukan jalan raya ataupun jalan protokol pusat kota Yogyakarta, namun satu-satunya jalan menuju sekolah itu dari dua arah. Jalan Melati Wetan Yogyakarta, yang menyuguhkan pemandangan pagi bersemangat.  Hiruk pikuk alat transportasi mulai dari sepeda yang dikayuh anak-anak di sekitar sekolah, kendaraan bermotor, transportasi publik on line dan mobil pribadi menjadi pemandangan pagi itu. Bis kota tidak melintasi depan sekolah karena jalan itu bukan jalan raya atau jalan protokol kota.  
Itu hanyalah satu pagi diantara pagi-pagi yang lain di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Pintu masuk kendaraan dan keluar yang berbeda diatur sedemikian rupa sehingga meskipun ramai, arus lalu lintas di jalan umum depan sekolah tidak macet. Meskipun ramai, arus antar peserta didik oleh keluarganya tidak semrawut.
Bapak dan Ibu guru yang bertugas di depan pintu masuk telah bersiap dengan 5 S yaitu salam, senyum, sapa, sopan, santun. Sudah menjadi budaya menyambut anak-anak titipan Tuhan dalam rutinitas pagi. Itulah salah satu wujud menghargai kehadiran peserta didik dan  memberikan sapaan penyemangat di pagi hari. Menyapa anak-anak dengan nama mereka, menyerukan ucapan selamat pagi dan selamat belajar. Pagi itu salah satu anak baru saja turun dari kendaraan roda empat orangtuanya. Sesaat orangtuanya berlalu, sang anak baru sadar bahwa sisa-sisa sarapan masih menghiasi sekitar mulutnya. Dengan berbisik pada salah satu guru yang menyambutnya, ia mangatakan “ Bu guru, maaf aku baru saja selesai makan bubur. Mulutku belum bersih. Aku masih makan bubur lho.” Cerita jujur seorang anak kelas II. Ibu guru itu menjawabnya “Baik Nak, sekarang kamu bersihkan wajahmu di wastafel sambil lihat di cermin ya”. Bukan menyalahkan dan merendahkan, Bu Guru membuat pagi si anak cerah ceria.
Rasanya masih cukup waktu untuk menikmati pagi di halaman sekolah. Bermain bersama teman-teman yang datang pagi dan merasakan sejuknya udara di tengah kota memang sayang dilewatkan nampaknya. Lobi sekolah menjadi saksi keramahan antar guru dan peserta didik dan setiap insan yang melintasi ruangan penyambut bagi yang datang dan haus akan ilmu. Ya ilmu pengetahuan, ya ilmu untuk perkembangan diri anak bangsa. Di lobi sekolah terlihat jelas visi dan misi sekolah yang menjadi arahan dan jalan mewujudkan tujuan bersama. Visi sekolah yang berumuskan “Cerdas, Terampil, Cinta Kebenaran dan Berwawasan Global memiliki indikator yang salah satunya adalah “Unggul dalam pendidikan karakter”.
Sekolah itu tak begitu megah dengan pilar-pilar gagah dan mewah. Cukuplah bangunan kuat, kokoh dan bersahaja untuk menjadi tempat bermain dan belajar bagi setidaknya 400 hati yang ingin mencari bekal pengalaman hidup, ilmu pengetahuan, hard skill dan soft skill bagi masa depan. Begitu masuk ke halaman tengah sekolah, banyak pohon dan tanaman yang lengkap bertempelkan nama berbahasa Indonesia dan Latinnya. Lingkungan yang bersahabat dan menebarkan cukup oksigen bagi semua warga sekolah yang datang setiap hari. Pagi itu cerah, siap di lukis oleh pribadi-pribadi peserta didik.
“Nana tilut nana tilut nanana nana nana tilut nana nana tilut nanana nanana …..” instrumen lagu anak tanda masuk telah terdengar tepat pukul 06.50. Ada semangat mengantarkan kaki-kaki kecil pembelajar menuju kelas-kelas yang terdiri dari dua lantai. Dengan satu komando di masing-masing kelas, para peserta didik siap berbaris dengan tertib. Masuk satu persatu menuju meja dan kursi belajar di dalam kelas. Pagi itu meja tertata berbentuk U, tidak seperti seminggu ke belakang yang berbentuk kelompok-kelompok, atau berdua-dua di waktu yang lain lagi. Mengatur tempat duduk menjadi satu bentuk pengelolaan kelas yang menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Jam pelajaran pertama adalah jam Perwalian. Jam perwalian merupakan waktu khusus di awal kegiatan belajar mengajar setiap harinya. Jam perwalian di seluruh kelas itu serentak diisi dengan doa pagi, renungan ayat Kitab Suci, memberikan salam kepada guru, memberikan penghormatan untuk bendera merah putih di kelas, pengucapan yel-yel kelas, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib nasional dan pemberian motivasi belajar oleh guru. Penguatan karakter yang di harapkan akan tertanam dalam diri setiap pribadi di sekolah itu dan nilai – nilai kebaikan dikuatkan pada saat awal hari.
Pada jam-jam pembelajaran berikutnya, tidak hanya ilmu pengetahuan yang semata diajarkan oleh guru kepada peserta didik. Nilai-nilai moral yang ditarik dari setiap pembelajaran menjadi kunci penguatan karakter sesuai dengan harapan sekolah.
Siang itu, di suatu kelas di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Di mana seorang anak yang tadi pagi menyapa guru setelah makan bubur sebagai sarapannya, sedang berlangsung sebuah kuis. Kuis paling favorit di kelas adalah mencongak. Dengan segala perasaan nampak diantara wajah-wajah peserta didik, justru memberikan rasa tersendiri pada guru. Terkadang terkesan lucu melihat anak-anak nampak harap-harap cemas menantikan pertanyaan demi pertanyaan yang akan dilontarkan oleh guru. Biasanya anak-anak menyukai kuis mencongak ini karena begitu banyak kemampuan yang bisa diasah. Kecepatan, ketepatan, kepercayaan diri, mengendalikan emosi, fokus dan yang paling utama adalah jujur. Semakin hari, dari hasil pengamatan dan catatan sehari-hari guru, tidak lagi ditemukan peserta didik yang mencontek pada saat mengerjakan penilaian. Mengakui kesalahan sudah menjadi pembiasaan yang baik serta keberanian untuk meminta maaf jika melakukannya. Setiap usaha akan dihargai oleh guru dengan pujian ataupun reward. Reward dapat berbentuk gambar senyum yang nantinya akan dibubuhkan di kertasnya, bintang ataupun priviledge lain seperti membantu guru selama satu minggu penuh. Bisa dibayangkan, binar mata anak-anak menerimanya. Semua mendapatkan. Setiap usaha patut dihargai, sekecil apapun bentuknya. Sekali-kali, hasil bukan lagi menjadi tujuan akhir anak-anak karena motivasi dapat tumbuh dengan dorongan dan stumulus yang diberikan oleh guru dan lingkungan bagi perkembangan belajar mereka.
Siang itu hanyalah satu siang diantara siang-siang yang lain di SD Joannes Bosco Yogyakarta. Ketika  bel istirahat berbunyi dan anak-anak sudah siap menikmati bekal makan sehatnya masing-masing. Anak-anak secara otomatis terbiasa serta merta duduk di selasar depan kelas dan membuat lingkaran kecil untuk makan bersama. Betapa pemandangan itu menyejukkan setiap hati yang melihatnya.
Tidak hanya dalam jam perwalian pendidikan karakter didengungkan. Tidak hanya tertuang dalam visi misi sekolah. Tidak hanya tertoreh dalam brosur sekolah yang dikedepankan menjadi keunggulan sekolah. Namun dalam pembelajaran, pembiasaan dan kegiatan di sekolah dari pagi hingga siang. Karena pada dasarnya, kejujuran menjadi bekal utama yang hendaknya tertanam dalam tiap pribadi. Menjadi nilai yang tak boleh putus diperjuangkan. Kejujuran pun dituangkan melalui kegiatan tiap-tiap hari di SD Joannes Bosco setelah proses belajar ilmu pengetahuan di lalui. Setelah berproses dalam belajar di sekolah, anak-anak SD Joannes Bosco melakukan kontemplasi sebagai wujud kejujuran pada diri sendiri dan dengan Tuhan sang pemberi anugerah. Kontemplasi menjadi waktu khusus untuk hening dan mencoba mencari kehendak Tuhan setelah proses belajar yang dialami. Apa yang dikehendaki Tuhan atas semua melalui proses belajar dan peristiwa yang dialami. Menjadi waktu membangun niat dan mohon petunjuk Tuhan agar kebaikan yang sudah dilakukan dapat berguna bagi sesama dan menjadi pembiasaan. Sedangkan peristiwa dan tindakan atau sikap yang kurang baik dapat diperbaiki di hari-hari berikutnya.
Dalam buku Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa  yang disusun Kemendiknas melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum merumuskan 18 nilai karakter yakni religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cita damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab. Nilai karakter ini pun dituangkan dalam modul yang  berisi berbagai bentuk aktivitas dan lembar kerja bagi peserta didik agar usaha peningkatan pendidikan karakter di SD Joannes Bosco Yogyakarta  semakin mendalam.
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29). Bagaimana menguatkan sifat-sifat kejujuran dan moral kebaikan bagi peserta didik sekolah dasar? Di antara metode pembelajaranyang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Suyadi mengutip pernyataan Lickona bahwa pendidikan karakter mencakup tiga unsure pokok yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Dengan demikian, pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana dalam mengetahui kebenaran, mencintainya dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari (Suyadi, 2013:6).
Keteladanan berarti contoh tindakan yang sungguh nyata dilakukan agar dapat menjadi model dan menginspirasi sehingga dapat dibagikan bagi sesama yang dijumpai. Membiasakan berbuat kebaikan dan kejujuran menjadi efektif bagi usia dan karakteristik peserta didik sekolah dasar dengan melihat model dan menirunya. Dimulai dari Bapak dan Ibu guru di sekolah. Namun begitu, tidak hanya bapak ibu guru yang hendaknya memberikan keteladanan, karena pada hakikatnya, kebaikan adalah virus yang menular. Jika satu orang saja sudah memberi keteladanan kebaikan, menularkannya kepada orang lain, maka berbuat kebaikan akan menjadi pembiasaan yang bukan dipaksakan. Pembiasaan yang alami akan melekat dalam diri tiap pribadi untuk kemudian dibagikan pada yang lainnya.
Di SD Joannes Bosco Yogyakarta, anak-anak dan semua yang mengenal sekolah ini tentu tidak asing dengan motto sekolah “Veritas” yang dalam Bahasa Indonesia berarti Kebenaran. Karakter yang diperkuat di sekolah itu salah satunya adalah Kebenaran yang dapat diwujudkan dalam sikap kejujuran. Mengatakan kejujuran dan bertindak jujur semakin nampak dalam diri peserta didik. Hati yang jujur melahirkan tindakan yang jujur. Menuliskan pengalaman secara jujur juga dilakukan pada akhir jam belajar. Setiap hari anak-anak mengisi diary dengan pengalaman, makna yang didapat dari proses belajar hari itu, perasaan yang dialami dan kebaikan – kebaikan yang dibagikan untuk sesama di sekolah. Buku diary dan pembiasaan menulis diary merupakan bentuk menuangkan kejujuran dan mengkomunikasikan seluruh proses belajar di sekolah dengan orangtua di rumah. Jika tidak jujur maka bukan anak Tuhan yang Veritas, kata mereka. Karena sejatinya, lingkungan sekolah dan lingkungan rumah hendaknya saling mendukung pembiasaan bagi kuatnya pendidikan karakter bagi peserta didik.
Mengutamakan pendidikan karakter sudah menjadi salah satu indikator visi dari SD Joannes Bosco Yogyakarta. Baik itu karakter lulusan maupun seluruh anggota keluarga besar sekolah mulai dari Kepala Sekolah, guru, karyawan dan pemerhati sekolah hingga peserta didik yang dipercayakan oleh orangtua kepada pihak sekolah. Keteladanan dan pembiasaan akan menguatkan pendidikan karakter bagi semua warga sekolah yang pada akhirnya akan membawa kebaikan untuk dibagikan bagi sesama menuju keselamatan.

Hi, my blog ... Rasanya sayang untuk menyimpan precious moments di hardisk saja ... sejuta cerita dalam utusan karya di benua seberang ... ...